Gifgofos Media adalah kumpulan 'pikiran liar' yang merupakan respon atas realita dan problem sosial-budaya yang sempat terinderai. Saya sangat menyadari bahwa blog ini tidak akan mampu menghapus dahaga pengembaraan pengunjung sekalian, namun paling tidak disini anda akan mendapatkan setetes embun sekadar untuk pembasah bibir.

Tuesday, December 07, 2010

Berkenalan dengan Filsafat Atomisme Logis Bertrand Russel

Pendahuluan
Filsafat atomisme logis yang dipelopori oleh Bertrand Russell di Amerika merupakan rangkaian dari perkembangan filsafat analitis bahasa yang populer dan berkembang sangat pesat pada abad XX. Filsafat analitis bahasa lahir sebagai respon atas kerancuan dan permasalahan dalam menjelaskan dan menguraikan ungkapan-ungkapan filosofis. Dengan kata lain, filsafat analitis bahasa digunakan untuk membahas, menjelaskan dan memecahkan masalah filsafat dengan menggunakan analitika bahasa, ataupun melalui analisis linguistik.
Atomisme logis yang berpusat di Cambridge, Inggris dirintis oleh ‘tiga serangkai’ G.E. Moore (1873-1958), Bertrand Russell (1872-1979), dan Ludwid Wittgenstein (1889-1951). Walaupun pemikiran atomisme logis sebenarnya telah dikembangkan oleh Ludwig Wittgenstein dalam karyanya “Tractatus Logico Philosophicus”, namun nama dari aliran ‘atomisme logis’ ini pertama kali dikemukakan oleh Bertrand Russell dalam suatu artikelnya yang dimuat dalam “Contemporary British Philosophy” yang terbit pada tahun 1924. Nama atomisme logis yang digunakan oleh Bertrand Russell menunjukkan pengaruh dari David Hume dalam karyanya “An Enguiry Concerning Human Understanding”.
Pemikiran filsafat di Inggris sebelum Bertrand Russell dikuasasi oleh tradisi idealisme sehingga dapat pula dikatakan bahwa filsafat atomisme yang dikembangkan oleh Bertrand Russell –seorang penganut empirisme yang pikirannya sangat dipengaruhi oleh John Lock dan David Hume– merupakan reaksi keras terhadap aliran idealisme. Bagi kalangan empirisme, seperti David Hume misalnya, mengungkapkan bahwa semua ide yang kompleks itu terdiri atas ide-ide yang sederhana atau ide yang atomis (atomic ideas) yang merupakan ide yang sederhana.  Menurut Hume, seorang filsuf itu hendaknya melaksanakan analisis psikologi terhadap ide. Dari sinilah bermula perbedaan pemikiran antara Bertrand Russell dan David Hume.  Menurut Bertrand Russell, analisis itu bukan pada aspek psikologis namun dilakuna terhdap proposisi-proposisi.
Perkembangan pemikiran atomisme logis ini juga  dipengruhi oleh F.H. Bradley dalam hubungannya dengan formulasi logika proposisi, juga oleh G. E. Moore yang menekankan pada ciri analisisnya. Bradley mengungkap kelemahan empirisme yang bersifat psikologis yang hanya bekerja dengan ide-ide dan bukan berdasarkan pada suatu putusan (judgements) atau keterangan-ketarangan (propositions). Dasar inilang yang kemudian diangkat oleh Russell demi prinsip-prinsip analisisnya yaitu yang berdasarkan pada suatu putusan.  Sedangkan  Moore memberikan analisis proposisi filsafat berdasarkan akal sehat, bagi Moore, bahasa sehari-hari (alamiah) telah memadai untuk menganalisis persoalan kefilsafatan. Inilah yang menyebabkan Bertrand Russell mencari kebenaran melalui penggunaan analisis dan sintesa logis. Hal ini mengandung pengertian bahwa untuk mendapatkan suatu kebenaran dilakukan dengan mengajukan alasan-alasan yang bersifat apriori yang tepat, selanjutnya diikuti dengan pengamatan empiris melalui indera (aposteriori). Bertrand Russell ingin membangun bahasa yang mampu mengungkap realitas, yang berdasarkan formulasi  logika, yakni bahasa yang mampu mengungkapkan suatu realitas fakta yang bersifat akurat.
Formulasi Logika Bahasa
Dalam prinsip atomisme logis Bertrand Russell, bahwa problema filsafat muncul justeru karena keterbatasan bahasa biasa dan penyimpangan penggunaan bahasa dalam filsafat. Hal ini disebabkan karena kurang dipahaminya formulasi logika dalam ungkapan-ungkapan bahasa. Struktur gramatika belum tentu menentukan struktur logis dari suatu ungkapan bahasa.
Kalimat “Lions are yellow” dan “Lions are real” misalnya, keduanya memiliki struktur gramatika yang sama, namun memiliki struktur logika yang berbeda. Bandingkan dengan “Socrates adalah seorang filsuf” dan “Aristoteles adalah seorang filsuf”, kedua kalimat ini mengandung struktur gramatika dan struktur logika yang sama.
Menurut Bertrand Russell, dua pengertian memiliki struktur logika yang sama bilamana dua hal itu mengandung kesesuaian. X memiliki struktur logika yang sama dengan Y, bilamana X mengandung kesesuaian dengan Y., sehingga X dan Y saling menggantikan. Formulasi logis itu bukan hanya didasarkan pada logika formal saja, melainkan didukung oleh suatu fakta, yaitu sintesa logis dari fakta.
Prinsip Kesesuaian (Isomorfis)
Bertrand Russell menganalisa hakikat realitas dunia melalui analisis logis, karena hal ini berdasarkan pada kebenaran apriori yang universal yang bersumber pada rasio manusia. Adapun sintesa logis merupakan metode untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan melalui pengetahuan empiris (pengalaman inderawi) yang bersifat aposteriori.
Pengetahuan pada hakikatnya merupakan pernyataan yang tersusun menjadi suatu sistem yang menunjuk kepada entitas atau unsur pada realitas dunia. Russell menegaskan bahwa terdapat kesesuaian bentuk atau struktur antara bahasa dengan dunia. Dunia merupakan suatu keseluruhan fakta, adapun fakta terungkap melalui bahas, sehingga terdapat suatu kesesuaian antara struktur logis bahasa dengan dengan struktur realitas dunia.
Menurut Bertrand Russell , analisis bahasa yang benar akan menghasilkan suatu pengetahuan yang benar pula tentang hakikat realitas dunia. Formulasi ligis bahasa yang memiliki kesesuaian struktur dengan realitas dunia ini dikembangkan lebih lanjut dalam pengertian proposisi yang tersusun atas proposisi atomis menjadi proposisi yang bersifat majemuk atau kompleks.
Struktur Proposisi
Hakikat keseluruhan fakta-fakta yang merupakan dunia tersebut memiliki struktur logis dan oleb karena berkesesuaian dengan bahasa maka struktur bahasa yang melukiskan dunia juga memiliki  stuktur logika. Oleh karna itu hakikat fakta-fakta tadi terlukiskan melalui proposisi. Fakta-fakta itu sendiri sebena-nya tidak dapat bersifat benar atau salah, yang dapat diberikan kualifikasi benar atau salah adalah proposisi-proposisi yang mengungkapkan fakta-fakta. Dengan perkataan lain proposisi merupakan simbol dan bukan merupakan bagian dunia. Proposisi memiliki struktur yang terdiri atas sejumlah kata, dan kata-kata itu menunjuk kepada suatu data inderawi (sense data) dan 'universalia' (universals) yaitu ciri-ciri atau relasi-relasi.
Contoh dataa inderawi misalnya 'putih' dan contoh universalia misalnya 'berdiri di samping'. Data inderawi ditunjukkan dengan `logical proper name' (nama diri yang logis) misalnya `ini' dan `itu'. Proposisi menurut bentuk yang paling sederhana misalnya "inilah putih" ( x adalah y) atau "ini berdiri di damping itu" (xRy). Oleh karna proposisi tersebut merupakan bentuk yang paling sederhana (yang terkecil) maka proposisi tersebut disebut proposisi atomic, karma mengungkapkan fakta yang paling sederhana (istilah atomis sepadan dengan susunan bends-benda yang terdiri atas bagian terkecil yang disebut atom) dan karana proposisi pada hakikatnya merupakan simbol bahasa yang mengungkapknn fakta.
Masing-masing proposisi atomis itu memiliki arti atau makna scndiri-sendiri yang terpisah satu dengan lainnya. Untuk membentuk suatu proposisi, majemuk maka proposisi-proposisi atomis tersebut dirangkaikan dengan kata-kata penghubung seperti “dan”, “atau” serta kata penghubung lainnya untuk menjelaskan struktur proposisi atomis dan proposisi majemuk,  contoh sebagai berikut "Sokrates adalah seorang warga Athena yang bijaksana" Ini merupakan suatu proposisi majemuk yang terdiri atas dua fakta atomis yaitu (1) "Sokrates adalah warga Athena", dan (2) "Sokrates adalah seorang yang bijaksana" Kedua proposisi tersebut membentuk suatu proposisi yang majemuk setelah dihubungkan dengan kata `yang’.

Sumber Bacaan: Kaelan (1998) Filsafat Bahasa. Yogyakarta: Paradigma
Mohon berikan komentar atas tulisan ini.

No comments:

Post a Comment