Gifgofos Media adalah kumpulan 'pikiran liar' yang merupakan respon atas realita dan problem sosial-budaya yang sempat terinderai. Saya sangat menyadari bahwa blog ini tidak akan mampu menghapus dahaga pengembaraan pengunjung sekalian, namun paling tidak disini anda akan mendapatkan setetes embun sekadar untuk pembasah bibir.

Tuesday, November 20, 2007

GENDER DAN PERAN PEREMPUAN DALAM RUMAH TANGGA NELAYAN KOMUNITAS KEL. DUFA-DUFA KOTA TERNATE UTARA

Oleh : Dra. Nurhasna Abbas, Marwia Hi. Ibrahim, S.Ag, Jumahir Jamulia, S.Pd., Drs. Murid Dosen STAIN Ternate ABSTRAK Penelitian ini diarahkan pada upaya untuk; (1) Mengidentifikasi dan memahami konsepsi gender pada komunitas Dufa-Dufa Ternate. (2) Memahami pembagian kerja pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga nelayan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. (3) Mengidentifikasi dan memahami latar jenis kegiatan produktif yang dilakukan kaum perempuan dari rumah tangga nelayan untuk menopang pemenuhan tuntutan kebutuhan hidup mereka. Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan (Agustus-Oktober 2004) dengan lokasi penelitian Kel. Dufa-Dufa yang ditetapkan secara purpossive sesuai masalah penelitian, demikian juga informan dan responden yang dipilih secara purpossive sesuai fokus masalah diatas. Dalam pengumpulan data penelitian ini dilakukan secara bertahap, tahap pertama digunakan wawancara terstruktur yang dipedomani dengan instrumen questionnire. Tahap kedua digunakan Focus Group Discussion, wawancara semi terstruktur, indepth interview, dan participant observation yang dilengkapi dengan alat bantu tape recorder, kamera dan alat tulis.. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan pendekatan dialogical interpretation atau disebut juga dengan metode negosiasi. Kualitas sumber daya manusia Dufa-Dufa tergolong rendah, walaupun Dufa-Dufa sebagai pusat pendidikan. Rendahnya kualitas sumber daya ini tampak pada rendahnya pendidikan ibu-ibu rumah tangga dan warga komunitas Dufa-Dufa pada umumnya. Meski pendidikan perempuan komunitas Dufa-Dufa dikategorikan rendah, tetapi hal itu tidak menghalangi mereka untuk berperan secara aktif dalam wilayah publik. Jika kegiatan berdagang ikan di pasar, dibo-dibo dikategorikan sebagai pekerjaan-pekerja di luar rumah, maka dapat dikatakan, perempuan Dufa-Dufa lebih dominan dibandingkan laki-laki, temasuk dalam hal pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangga. Masalah peran-peran perempuan seperti ini tidak dianggap sebagai yang utama. Kegiatan ekonomi perempuan dianggap sebagai pelengkap yang sekadar membantu pekerjaan laki-laki atau suami. Kata kunci: gender, peran perempuan, Dufa-Dufa =================================================================== 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Salah satu wacana yang mendunia di samping wacana demokrasi, hak azasi manusia, dan lingkungan, yaitu gender dan pembangunan. Wacana gender dalam pembangunan tersebut terutama menyangkut posisi perempuan yang marginal dari pembangunan dimana perempuan merupakan pihak yang tidak diuntungkan baik secara ekonomi, pendidikan maupun kekuasaan (politik). Berbagai indikator, menurut Hatmadji (dalam Anwar dkk 1997:812-813) menunjukkan bahwa betapapun perempuan tertinggal dalam banyak hal –kalau tidak semua hal– dari laki-laki. Upaya mengejar ketertinggalan perempuan yang dipicu oleh kesadaran di atas, melahirkan tiga pendekatan yaitu pendekatan antikemiskinan, pendekatan efisiensi dan pendekatan Gender and Development (GAD). Menurut pendekatan antikemiskinan, peningkatan pendapatan masyarakat harus pula menyangkut peningkatan pendapatan perempuan. Pendekatan efisiensi rnengatakan bahwa ketidakterlibatan perempuan dalam pembangunan merupakan suatu bentuk inefisiensi nasional, mengingat bahwa perempuan merupakan bagian dari sumber daya manusia negara tersebut. Kedua pendekatan mainstream dalam penanganan ketimpangan gender ini menekankan bahwa, rendahnya kualitas sumber daya manusia para perempuan itu sendiri sehingga mereka tertinggal dari laki-laki. Kedua pendekatan ini kemudian rnenggulirkan proyek global yang dikenal sebagai Women in Development (WID). Program WID ini berasurnsi bahwa dalam sistem sosial laki-laki dan perempuan pada dasarnya sama, sehingga ketertinggalan perempuan dari laki-laki dalam berbagai bidang kegiatan disebabkan karena perempuan dianggap belum mampu. Namun, pendekatan ini tidak lepas dari kritik yang datang dari pendekatan Cender and Development (GAD). Menurut pendukung pendekatan ketiga ini, bahwa persoalannya bukan terletak pada perempuan, melainkan di dalam sistem sosial itu sendiri. Pendekatan ketiga ini menekankan apa yang disebut sebagai pemberdayaan perempuan (women empowerment) yang meliputi upaya untuk mendapatkan persamaan hak ekonomi, hak-hak resmi seperti pernikahan dan perceraian, dan hak-­hak reproduksi (Saptari dan Holzner 1997, dikutip Hatmadji, ibid:813). Hak-hak tersebut terletak dalam kekuasaan yang selama ini dinikmati kaum laki-laki daripada perempuan dalam sebuah struktur sosial patriarkis dimana kaum laki-laki lebih dominan daripada perempuan. Dominasi ideologi gender ini bahkan berimplikasi pada ketidaknampakan kerja wanita sebagaimana dalam laporan-laporan pemerintah. Hal ini, menurut Moore (1998:82), rupanya merupakan ciri dari pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin di banyak masyarakat, dan ini diperkuat oleh asumsi etnosentris para peneliti dan pembuat kebijaksanaan, dan oleh ideologi-­ideologi jender pribumi. Kalau kerja secara konvensional dipahami sebagai 'kerja upahan di luar rumah' maka nilai kerja subsistem dan domestik kaum wanita tidak diakui. Pekerjaan yang dianggap masyarakat sebagai `jenis pekerjaan perempuan’, seperti sernua pekerjaan domestil, dianggap dan dinilai lebih rendah dibandingkan dengan jenis pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan lelaki, serta dikategorikan sebagai ‘bukan produktif' sehingga tidak diperhitungkan dalam statistik ekonomi negara (Fakih, 1999:21). Dalam cara yang berbeda dengan Moore, Robinson (dalctm D.K Emmerson, ed. 2001:430), mengatakan bahwa, di Indonesia, menyangkut pembagian status dalam sebuah keluarga atau rumah tangga beserta tanggung jawab dan hak yang menyertainya, telah banyak dihasilkan oleh penulis, peneliti dan bahkan negara. Akan tetapi, seringkali hal itu dikonstruksi dengan bias gender dan menutupi kenyataan sesungguhnya. Dicontohkannya, bahwa program-program resmi meng­anggap, misalnya, kepala rumah tangga adalah pria. Ini sering berakibat pada hasil statistik resmi yang tidak meng-ambarkan kenyataan sosial yang sebenarnya. Ketidaknampakan kerja perempuan dalam laporan-laporan pemerintah, dapat dilihat seperti dalam monografi Kel. Dufa-Dufa Ternate, tahun 2003. Laporan atau monografi ini menggambarkan bahwa jumlah perempuan 2607 orang dan laki-laki 2543. Berdasarkan jenis pekerjaan, monografi ini hanya mendeskripsikan secara statistikal distribusi jumlah warga kedalam sembilan jenis pekerjaan tanpa menggambarkannya dalam kategori jenis kelamin. Kesembilan jenis pekerjaan yang ada, jumlah warga yang bekerja sebagai nelayan sebanyak 984 orang, disusul buruh tani sebanyak 338 orang, wiraswasta/pedagang 297 orang, pegawai negeri sipil 229 orang, dan tani 211 orang, kemudian sejumlah kecil warga yang terserap kedalam pekerjaan seperti pertukangan, swasta, TNI/POLRI, dan sejumlah pensiunan. Laporan statistikal itu menuiijukkan bahwa, mata pencaharian bagian terbesar dari warga komunitas Dufa-Dufa adalah nelayan atau sebanyak 43.5 % dari total penduduk yang bekerja. Suatu jumlah yang sangat besar, tidak saja dari segi lapangan pekerjaan nelayan, tetapi juga dari segi tingkat kesejahteraan yang rendah. Pernyataan terakhir ini beranjak dari pernyataan Bagong Suyanto (dalam Kusnadi, 2004:17-18) bahwa, dibandingkan dengan desa-desa agraris, desa-desa pantai atau pesisir umumnya merupakan kantong-kantong kemiskinan struktural yang acapkali lebih mencemaskan. Selanjutnya Suyanto (ibid) mengatakan bahwa, kesulitan untuk meningkatkan kesejahteraan komunitas desa pantai disebabkan dua faktor, yaitu internal dan eksternal. Secara internal, berkaitan dengan sifat hasil produksi nelayan yang acap kali rentan waktu atau cepat busuk. Maka cara mereka menyiasati pemenuhan kebutuhan hidup adalah bagaimana mereka menjual secepat mungkin ikan hasil tangkapannya ke pasar. Kedua karena terperangkap hutang akibat irama musim ikan yang tidak menentu dan kondisi perairan yang sudah tangkap lebih, maka sering terjadi keluarga nelayan miskin kemudian harus menjual sebagian atau bahkan semua aset produksi yang dimiliki untuk menutupi utang dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sementara faktor eksternal berupa makin terbatasnya potensi sumber daya laut yang bisa dimanfaatkan oleh nelayan, persaingan yang makin intensif, irama musim, mekanisme pasar dan sebagainya. Kekaburan laporan dalam monografi diatas menyebabkan keadaan sosial ekonomi dan kegiatan produktif, baik diupah maupun tidak, dari perempuan dalam rumah tangga nelayan tidak dapat teridentifikasi. Padahal peran kaum perempuan dalam rumah tangga nelayan ini penting dipahami karena kontribusi mereka, boleh jadi, membantu rneringankan pemenuhan tuntutan kebutuhan hidup sehari-hari rumah tangga mereka, bahkan sekalipun kondisi kehidupan mereka tidak seperti yang digambarkan Suyanto di atas. 1.2. Masalah Penelitian Beranjak dan argumentasi pada latar belakang diatas, masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: 1.2.a Bagaimana konsepsi gender komunitas Dufa-Dufa Ternate? 1.2.b Bagaimana pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga nelayan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 1.2.c Apa Jenis kegiatan produktif yang dilakukan kaum perempuan dari rumah tangga nelayan dalam menopang pemenuhan tuntutan kebutuhan hidup mereka? 1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas, penelitian ini diarahkan pada upaya untuk: 1.3.a Mengidentifikasi dan memahami konsepsi gender pada komunitas Dufa-Dufa Ternate. 1.3.b Memahami pembagian kerja pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga nelayan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 1.3.c Mengidentifikasi dan memahami latar jenis kegiatan produktif yang dilakukan kaum perempuan dari rumah tangga nelayan untuk menopang pemenuhan tuntutan kebutuhan hidup mereka. 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan (Agustus-Oktober 2004) dengan lokasi penelitian Kel. Dufa-Dufa yang ditetapkan secara purpossive sesuai masalah penelitian, demikian juga informan dan responden yang dipilih secara purpossive sesuai fokus masalah diatas. Dalam pengumpulan data penelitian ini dilakukan secara bertahap, tahap pertama digunakan wawancara terstruktur yang dipedomani dengan instrumen questionnire. Tahap kedua digunakan Focus Group Discussion, wawancara semi terstruktur, indepth interview, dan participant observation yang dilengkapi dengan alat bantu tape recorder, kamera dan alat tulis.. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan pendekatan dialogical interpretation atau disebut juga dengan metode negosiasi. 3. PEMBAHASAN 3.1. Mengenal Komunitas Dufa-Dufa 1. Letak Geografis Dari sisi letak geografis, masyarakat Kelurahan Dufa-Dufa mesti dilihat sebagai masyarakat transisi". Hal ini tampak pada pola penyebutan warga Ternate terhadap persebaran pemukiman, dengan demikian persebaran penduduk, sebagai penanda perkembangan kemajuan pembangunan fisik dan dinamika sosial budaya masyarakat. Melalui pola penyebutan itu, Kelurahan Dufa-Dufa dapat dikategorikan sebagai pembatas "pusat- pinggiran" Mereka yang terbiasa menggunakan tuturan sehari-hari untuk menemu kenali suatu masyarakat, tidak sulit memastikan bahwa Kelurahan Dufa-Dufa, selama ini, dan hingga kini, oleh masyarakat Ternate, dianggap sebagai pembatas "pusat­ pinggiran". Hal ini tampak pada cara warga Ternate menerangkan/menunjukkan kepada mereka yang baru pertama datang di Kota Pulau di Ternate. Kepada tamu yang datang, atau dalam percakapan sehari-hari, orang-orang Ternate hampir tidak pernah menunjuk Kelurahan Dufa-Dufa sebagai pusat kota, pun bukan sebagai "belakang gunung". Kelurahan Sangaji yang berada di sebelah selatan Kelurahan Dufa-Dufa, selalu ditunjuk sebagai "daerah" yang masuk pusat kota di bagian utara dan Kelurahan Tafure yang berada di sebelah Utara Kelurahan Dufa-Dufa ditunjuk sebagai daerah yang masuk "Belakang gunung". Sebuah sebutan yang jelas jelas menunjuk kepada keterpinggiran - dari sisi perkembangan pembangunan fisik maupun dinamika sosial budaya. Kelurahan Duta-Duta sebagai daerah pembatas antara "pusat-pinggiran", tampak pula pada data monografi Kelurahan Dufa-Dufa tahun 2003. Dalam data tersebut disebutkan, letak geografis Dufa-Dufa pada bagian barat berbatas dengan Kelurahan Moya, bagian utara berbatasan dengan Kelurahan Tafure, bagian Selatan dengan Kelurahan Sangaji dan bagian timur berbatasan dengan laut. Letak geografis seperti ini memungkinkan masyarakat Dufa-Dufa melakukan kontak yang relatif tinggi dengan masyarakat luar Ternate. Hal ini bisa dilihat dari posisi Kelurahan Dufa-Dufa sebagai salah satu pintu masuk perdagangan. Sebagai salah satu pintu masuk perdagangan di Kota Ternate - terutama dari daratan Halmahera Barat, warga komunitas Dufa-Dufa tergolong lebih mobile jika dibandingkan dengan masyarakat Ternate (komunitas yang mengklaim diri sebagai masyarakat adat) lainnya. Jenis pekerjaan Warga Dufa-Dufa yang relatif lebih beragam, mungkin bisa disebut sebagai salah satu contoh. Pada posisinya sebagai salah satu pintu masuk perdagangan, dapat diasumsikan, masyarakat Dufa-Dufa pastilah lebih terbuka. Dengan demikian, sekali lagi, kontak dengan masyarakat luar juga cukup tinggi. Intensitas kontak sosial dengan masyarakat luar yang diasumsikan cukup tinggi itu juga dimungkinkan, karena Dufa-Dufa terletak sekitar 0,6 kilometer dari Ibu Kota Kecamatan, dan 0,7 kilometer dari Ibukota Kota Ternate dan 4 kilometer dari Ibukota Provinsi. Dari tuturan warga segi penanda ini, dapat diduga, masyarakat Kelurahan Dufa-Dufa, sangat mungkin, tidak bisa lagi diklaim sebagai masyarakat yang konservatif berpegang pada adat Ternate. Paling tidak untuk sebagian. Dengan kata lain, masyarakat Dufa-Dufa, dewasa ini, lebih cair terhadap nilai-nilai luar yang, bukan tidak mungkin, tidak bersesuaian dengan norma-norma adat Ternate. Keterbukaan pada nilai-nilai luar ini, sangat mungkin juga telah mempengaruhi "kesetiaan" masyarakat terhadap adat. 2. Kondisi Demografi DUGAAN kemungkinan melenturnya masyarakat Kelurahan Dufa-Dufa dari adat - adat sebagai salah satu norma, selain agama, dalam interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari - menjadi masuk akal karena, sekitar dua puluh tahun terakhir, Dufa-Dufa telah menjadi pusat pendidikan di Kota Ternate. Dengan demikian, sangat dimungkinkan telah terjadi "asimilasi" antara penduduk setempat dengan siswa/mahasiswa MTsN, MAN, dua SMA, STM dan STAIN Ternate, terutama mereka yang berasal dari luar Ternate yang tinggal di sana. Meski tidak ada data yang menjelaskan komposisi penduduk menurut suku dan sub-etnis, namun dapat dipastikan, penduduk Kelurahan Dufa-Dufa tidak lagi homogen - Kelurahan Dufa-Dufa hanya dihuni penduduk asli. Heterogenitas penduduk Kelurahan Dufa – Dufa selain karena tidak sedikit siswa/mahasiswa yang mukim di kelurahan ini, mobilitas penduduk kelurahan Dufa-Dufa juga dipengaruhi Faktor "perkawinan campur". Meski dalam jumlah yang kecil, suku Bugis-Makassar, Jawa, Sumatra dan beberapa sub - etnis di Maluku Utara, sekarang menjadi penduduk Kelurahan Dufa-Dufa. Komposisi penduduk seperti ini, jelas telah memberi pengaruh terhadap perubahan kehidupan sosial budaya di Kelurahan Dufa-Dufa. Tingkat mobilitas penduduk Kelurahan Dufa-Dufa tergolong tinggi. Menurut monografi tahun 2003 jumlah penduduk sebanyak 3428 orang dengan komposisi: laki-laki 1772 orang perempuan 1658, dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 723. Per Desember tahun 2004 jumlah penduduk Kelurahan sebanyak 5150. Demikian, pertambahan penduduk Kelurahan Dufa-Dufa rata-rata dua orang dalam satu hari. Seratus persen penduduk Kelurahan Dufa-Dufa beragama Islam. Juga tidak ada WNA yang sebagai penduduk Dufa-Dufa. Menggunakan metode caca jiwa yang sederhana, survei ini menemukan jumlah penduduk asli warga Dufa-Dufa - yakni mereka yang menetap secara permanen, karena perkawinan atau karena bekerja lalu membangun rumah di Kelurahan Dufa Dufa - tercatat sebanyak 2.545 orang dengan komposisi: laki-laki 1.277 orang dan perempuan 1.268 orang. Artinya, setengah penduduk Dufa-Dufa adalah pendatang. Komposisi seperti ini dimungkinkan karena, seperti telah disebutkan, Dufa-Dufa merupakan salah satu pusat pendidikan. Sebagai pusat pendidikan, maka tidak sedikit siswa/mahasiswa bermukim di sana selama menempuh pendidikan. Dari sisi umur, komposisi penduduk Kelurahan Dufa-Dufa, mayoritas berada pada usia produktif. Pada saat survei Ini dilaksanakan, penduduk berusia 0-15 tahun sebanyak 745 orang dengan rincian laki-laki 384 orang dan perempuan 361 orang. Penduduk berusia produktif 16-60 tahun sebanyak 1.753 dengan proporsi menurut kelamin, laki-laki 864 orang dan perempuan 889 orang. Sedangkan penduduk di atas 60 tahun sebanyak 47, dengan rincian 29 orang laki-laki dam 10 orang perempuan. Survei ini juga menemukan, jumlah pendudukan Kelurahan Qufa-Dufa menurut status perkawinan adalah sebagai berikut; kawin 1 177 orang dengan rincian laki-laki yang telah menikah sebanyak 590 orang dan perempuan sebanyak 587. Di duga kuat, 3 orang yang telah menikah (590-587-3), ditinggal pergi istri dengan satu dan lain alasan yang tidak mau mereka ungkapkan. Ada pun duda sebanyak 10 rang dan janda sebanyak 50 orang. Meski jumlah janda relatif kecil. Namun patut dicatat, mereka pantas untuk mendapat perhatian khusus sebagai single parent yang, secara absolut menanggung beban ganda dalam menopang ekonomi rumah tangga. 3. Pendidikan Penduduk SELAIN letak geografis yang memungkinkan Kelurahan Dufa-Dufa menjadi daerah terbuka dengan dunia luar, yang tergambar dari komposisi penduduk, perubahan sosial-budaya masyarakat Dufa-Dufa, jika itu memang ada, juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan penduduk. Menurut data monografi tahun 2002, penduduk yang tamat SD sebanyak 304 orang; tamat SLTP 46; tamat SLTA 629 orang; D1/D2 sebanyak 41 orang; sarjana (Sl-S3) sebanyak 208 orang. Per Desember 2004, penduduk Dufa yang, menamatkan buta aksara 12 orang. Sementara penduduk yang tidak tamat SD sebanyak 29 orang; yang tamat SLTP sebanyak 491 orang; SLTA 774 orang dan 362 orang yang menamatkan pendidikan di perguruan tinggi. Belum bisa dipastikan, apakah angka-angka ini bisa dijadikan sebagai indikator bahwa tingkat pendidikan penduduk Kelurahan Dufa-Dufa sudah bagus. Jika angka­- angka tersebut di atas adalah angka-angka yang menunjuk kepada tingkat pendidikan penduduk asli Dufa-Dufa mereka yang lahir, menetap dan tetap menetap di Dufa-­Dufa setelah menyelesaikan pendidikannya - atau angka-angka tersebut termasuk penduduk musiman", yakni mereka yang menetap untuk sementara di Kelurahan Dufa-Dufa karena satu dan lain sebab, seperti untuk menyelesaikan pendidikan atau karena bekerja. Jika angka-angka di atas menunjuk kepada penduduk asli Dufa-Dufa, maka dapat dikatakan, tingkat pendidikan penduduk Dufa-Dufa lumayan bagus. Namun jika angka-angka itu juga mencakup mereka yang datang dan menetap di Dufa-Dufa untuk sementara karena menyelesaikan pendidikan dan selamanya karena pekerjaan, maka angka-angka dalam monografi pendidikan ini, bukan tidak mungkin, bisa menjadi cermin rendahnya pendidikan penduduk Dufa-Dufa. Dugaan kelambanan mobilitas vertikal (dari sisi pendidikan) warga Dufa-Dufa diasumsikan amat lambat dapat dibenarkan dengan asumsi, bahwa jumlah penduduk dengan tingkat pendidikan yang telah menyelesaikan SD, tidak seluruhnya adalah penduduk asli Dufa-Dufa. Dengan kata lain, mereka yang telah menyelesaikan pendidikan SD, SLTP, SLTA dan perguruan tinggi yang sekarang menjadi penduduk Dufa-Dufa adalah, sangat mungkin, adalah pendatang dengan tujuan untuk menyelesaikan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau sebagai angkatan kerja pendatang. Hal ini juga dapat dilihat pada angkat-angka remaja putus sekolah. Per Desember 2004, data monografi kelurahan mencatat sebanyak 21 remaja yang putus sekolah SD. Dan masing-masing 31 orang, 23 orang dan 16 orang yang putus sekolah SLTP, SLTA dan putus kuliah. Angka-angka ini jelas menunjuk kepada penduduk asli Dufa­ - Dufa yang putus sekolah. Dengan kata lain, remaja yang putus sekolah atau putus kuliah, hampir bisa dipastikan, bukan penduduk asli Dufa-Dufa. Sebab, pendatang yang putus sekolah/kuliah akan segera pulang ke daerahnya. Rendahnya pendidikan penduduk Kelurahan Dufa-Dufa, juga tergambar dari tingkat pendidikan ibu rumah tangga. Per Desember 2004, sebanyak 878 perempuan yang berstatus sebagai ibu rumah tangga. Dari jumlah itu, terdapat 89 ibu rumah tangga yang tidak tamat SD, sebanyak 120 ibu rumah tangga yang menamatkan sekolah dasar. Masing-masing sebanyak 216 orang dan 104 orang ibu rumah tangga yang menamatkan pendidikan SLIT dan SLTA. Hanya 41 orang yang menamatkan perguruan tinggi. Dapat dipastikan, tingkat pendidikan penduduk asli Kelurahan Dufa-Dufa tergolong rendah. Survei ini menemukan, sebanyak 322 laki-laki dari 1277 penduduk (laki-laki) Dufa-Dufa hanya tamat SD, sementara 333 dari 1268 penduduk (perempuan) Dufa-Dufa telah menyelesaikan pendidikan dasarnya. Ada pun penduduk yang dengan tingkat pendidikan SUP terdapat 248 orang laki-laki dari 1277 orang penduduk (laki-laki), sedangkan perempuan yang tamat SLTP sebanyak 254 orang dari keseluruhan penduduk (perempuan) Dufa-Dufa yang berjumlah 1268 orang. Adapun laki-laki yang berpendidikan SLTA sebanyak 422 dan perempuan - sebanyak 365 orang. Fakta bahwa tingkat pendidikan warga komunitas Dufa-Dufa jika jenjang pendidikan formal juga tampak pada komposisi penduduk yang memiliki latar belakang perguruan tinggi. Tercatat hanya 8 orang laki-laki dari 1277 laki-laki Dufa - Dufa dan 46 perempuan dari 1268 perempuan Dufa-Dufa yang mengantongi ijazah diploma. Sementara laki-laki yang berstatus mahasiswa sebanyak 31 orang dan perempuan 43 orang. Hanya 71 laki-laki dan 52 perempuan yang menyelesaikan S1, serta 3 orang berpendidikan magister. Selain hanya satu orang yang mendapat pendidikan dari YPAC, tercatat 142 laki-laki dan 138 perempuan yang digolongkan usia pra sekolah. Sementara itu, terdapat 26 orang laki-laki dan 40 perempuan, yang masuk kategori yang tidak tamat sekolah dasar. DI dalamnya termasuk mereka yang buta huruf. Dari data-data ini, yakni 12,65 % laki-laki dan 13,08 % perempuan atau 15,73 % penduduk Dufa-Dufa yang berpendidikan SD; 9,74 % laki-laki dan 9,98 % atau 19,72 % berpendidikan SLTP; 16,58 % laki-laki dan 14,34 % perempuan atau 20.62 berpendidikan SLTA; 0,31 % laki-laki dan 1,80 % atau 2,12 % yang berpendidikan diploma; 2,90 % laki-laki dan 2,08 % perempuan yang berpendidikan S1-S2, serta 2,67 % yang tidak tamat SD, di dalamnya termasuk buta aksara, tak bisa dipungkiri, tingkat pendidikan komunitas Dufa-Dufa memang rendah. Asumsi ini dapat dibenarkan jika ikut mempertimbangkan posisi Dufa-Dufa sebagai salah satu daerah (pusat) pendidikan di Kota Ternate. Dengan kata lain, sudah hampir 30 tahun lebih Dula-Dufa menjadi pusat pendidikan, yakni sejumlah SLTP / SLTA dan perguruan tinggi (STAIN) berada di Dufa-Dufa, semestinya tingkat pendidikan warga Dufa-Duta ikut terdongkrak. Minimal separoh lebih warga Dufa-­Dufa telah berpendidikan SLTA. Fakta-fakta ini menunjukkan, bahwa keberadaan lembaga pendidikan tidak digunakan secara optimal oleh warga Dufa-Dufa untuk meningkatkan kualitas pendidikan mereka. 3.2. Pembahasan Hasil Penelitian ANALISIS masalah gender – gender dipahami sebagai seperangkat peran yang seperti halnya kostum dan topeng di teater, menyampaikan kepada orang lain bahwa kita adalah feminin atau maskulin: yang mencakup penampilan, pakaian, sikap, kepribadian, bekerja di dalam dan di luar rumah tangga, seksualitas, tanggungjawab keluarga dan sebagainya - dan peran perempuan dalam suatu komunitas sosial, dapat dilakukan dengan berbagai perspektif. Mengutamakan pendidikan anak laki-laki dari perempuan, mengutamakan kepentingan ekonomi anak laki-laki dari pada anak perempuan karena anak laki-laki dianggap sebagai kepala rumah tangga kelak atau atau anggapan bahwa perempuan hanya layak bekerja disektor domestik, karena sektor publik atau bekerja di luar rumah adalah pekerjaan laki-laki, adalah sedikit dari banyak hal yang ditunjuk sebagai bukti ketidaksetaraan gender. Apakah komunitas Dufa-Dufa menerapkan pembagian pekerjaan; memberikan pekerjaan tertentu sebagai tugas perempuan dan yang lainnya diberikan kepada laki-laki? Dan kalau terjadi pembagian pekerjaan, apakah peran yang diberikan kepada perempuan sebagai pengasuh, pendamping sebagaimana layaknya seorang istri dan ibu, sedangkan laki-laki mengambil peran sebagai pemimpin dan mengatur sebagaimana layaknya kepala rumah tangga? Sejauh yang dapat diamati, dan juga terungkap dari hasil wawancara, komunitas Dufa-Dufa melakukan pembagian pekerjaan domestik, seperti membesarkan anak, memasak, mencuci dan mengurus rumah adalah tugas perempuan. Sedangkan laki-laki yang dianggap sebagai kepala rumah tangga, bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Dan karena itu, laki-laki bekerja pada wilayah publik; mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di luar rumah. Pada kenyataannya, pembagian kerja sangat tidak jelas antara laki-laki dan perempuan dalam wilayah publik. Sebab, pekerjaan di War rumah seperti berdagang, bekerja sebagai karyawan swasta, PNS, anggota TNI/Polri, juga dilakoni oleh perempuan. Pembagian pekerjaan secara terjadi dalam rumah. Semua pekerjaan rumah seperti mengasuh anak, memasak, mencuci dan merawat rumah, sepenuhnya diselesaikan oleh perempuan. Laporan monografi kelurahan Dufa-Dufa tahun 2004 dapat dijadikan sebagai bukti ketidakjelasan pembagian kerja di luar sebagai pekerjaan laki-laki atau pekerjaan perempuan. Monografi itu melaporkan, komposisi jumlah tenaga kerja menurut jenis pekerjaan penduduk Dufa-Dufa adalah: 181 orang atau 3,51 % PNS; 11 orang atau 0,21 % anggota TNI/Polri; 54 orang atau 1,04 % karyawan swasta; 41 orang atau 0,79 % pensiunan; 249 orang atau 4,83 % wiraswasta (di dalamnya termasuk dibo-dibo pasar dan pemilik kios); 266 orang atau 5,16 % petani; 901 atau 17,49 orang nelayan dan 68 orang atau 1,32 % buruh pelabuhan. DI sini laki-laki dan perempuan mengambil peran yang hampir berimbang untuk bekerja di luar rumah. Pada taraf tertentu, perempuan Dufa-Dufa tampaknya lebih dominan dalam aktivitas ekonomi rumah tangga - rumah tangga di sini dipahami sebagai unit produksi dan konsumsi sekaligus. Pekerjaan-pekerjaan di sektor perikanan atau nelayan, misalnya, perempuan Dufa-Dufa tampaknya lebih dominan sebagai pengecer di pasar. Perempuan bahkan yang menentukan harga jual ril ikan di pasar. Peran perempuan tampak menonjol dalam dibo-dibo pasar. Data yang dikumpulkan dalam survei ini mencatat, terdapat 83 orang (perempuan) yang berstatus sebagai istri dan janda, berprofesi sebagai dibo-dibo pasar. Pendapatan per bulan yang mereka peroleh, rata-rata antara Rp. 1.500.000 hingga dengan Rp. 3.000.000. Pendapatan bersih ini tidak termasuk arisan harian sebesar Rp. 100.000 dengan anggota arisan antara 10-30 orang. Dengan kata lain, jika hasil penarikan arisan dikategorikan sebagai pendapatan bersih dibo-dibo pasar, maka pendapatan bersih pedagang ikan di pasar bergerak antara Rp. 4.500.000 hingga dengan Rp. 6.000.000 per bulannya. Sementara, pendapatan 221 nelayan, terdapat 23 orang dengan penghasilan perbulan rata-rata antara Rp. 200.000 – Rp. 500.000; terdapat 100 nelayan dengan penghasilan perbulan rata-rataRp. 600.000 – Rp. 1.000.000; sejumlah 97 orang nelayan berpendapatan perbulan rata-rata Rp. 1.000.000 – Rp. 1.900.000 ada nelayan yang berpendapatan antara Rp. 2.000.000-Rp. 3.900.000. Hanya satu orang dengan pendapatan rata-rata Rp. 4.000.000. Dari sisi ketahanan ekonomi rumah tangga, perempuan yang berprofesi sebagai dibo-dibo pasar (sebagai nelayan penjual) relatif lebih mampu bertahan dari “goncangan”. Bahkan perempuan bisa mempertahankan tingkat pendapatannya pada standar tertentu karena mereka yang pada akhirnya menentukan harga ikan, yang dengan sendirinya mereka juga yang menentukan keuntungan yang diperoleh dari setiap transaksi. Sedangkan laki-laki yang berprofesi sebagai nelayan pekerja, sangat tidak memiliki ketahanan ekonomi. Bahkan tidak mampu menentukan, dengan demikian tidak bisa menentukan standar pendapatannya. Lima kategori nelayan yang ditentukan dalam survei ini, yakni nelayan pemilik, nelayan pekerja, nelayan penyelenggaraan, nelayan (dibo-dibo) perantara dan nelayan (dibo-dibo) penjual pasar, tampak akan mampu menjelaskan peran penting yang dimainkan perempuan dalam pekerjaan-pekerjaan di luar rumah. Survei ini, dengan fokus utama pada komunitas nelayan, khususnya peran-peran ekonomi rumah tangga dtemukan beberapa perilaku ekonomi yang khas. Dari sisi pendapatan nelayan, nelayan pemilik, nelayan pekerja, nelayan pelaksana, nelayan dibo-dibo perantara amat sangat fluktuatif.. Hanya nelayan dibo-dibo pasar, yang mampu mempertahankan tingkat pendapatan karena mereka bisa mengatur harga jual ril ikan di pasaran - kepada konsumen. Terutama nelayan pekerja, yang didominasi laki-laki, pendapatnya tidak bisa diprediksikan. Hal ini terjadi karena, kegiatan melaut, dengan demikian pendapatan nelayan, selain ditentukan oleh cuaca, ia juga dipengaruhi oleh "faktor" keberuntungan - apakah tempat yang dituju nelayan cukup terdapat ikan untuk ditangkap atau tidak?. Dari lima kategori nelayan; yakni pemilik, ABK, penyelenggara, dibo-dibo perantara dan dibo-dibo pasar, dampak ekonomi yang paling parah dirasakan akibat fluktuasi pendapatan (hasil tangkapan) adalah nelayan pekerja atau ABK. Nelayan pemilik, pelaksana. dibo-dibo perantara dan dibo-dibo pasar, memiliki peluang yang cukup untuk mensiasati ekonomi rumah tangga akibat ketidak pastian hasil tangkap. Hal ini terjadi karena dalam sistem kerja antara majikan (nelayan pemilik) dan nelayan pekerja (ABK), tidak diberlakukan penggajian tetap. Biaya bahan bakar yang ditanggung bersama antara majikan dan ABK juga menjadi salah satu sebab kesulitan ekonomi yang sering dialami nelayan pekerja. Dengan bahasa yang lebih fungsional dapat dirumuskan: bahwa rendahnya tingkat kesejahteraan nelayan pekerja jika dibandingkan dengan tingkat kesejahteraan nelayan pemilik, nelayan penyelenggara, dibo-dibo perantara dan dibo-dibo pasar, karena sistem pembagian hasil yang ditetapkan cenderung ekspoitatif. Kecenderungan eksploitasi tersebut tampak pada; setelah dikurangi biaya operasional (BBM dan bahan konsumsi selama melaut) yang ditanggung bersama antara majikan dan ABK, hanya ikan hasil tangkapan dibagi 50 % untuk nelayan dan sisanya 50 % dibagi rata untuk ABK. Posisi nelayan pekerja bahkan sangat lemah di depan pemilik, penyelenggara, perantara dan penjual pasar. Keinginan nelayan pekerja untuk melakukan perubahan sistem penggajian, dari sistem bagi hasil kepada penggajian tetap, atau setidaknya biaya operasional seperti BBM dan bahan konsumsi lain selama melaut ditanggung majikan, tetapi mereka tidak bisa mengartikulasikan keinginan tersebut menjadi tuntunan karena khawatir hubungan kerja yang dibangun secara kekeluargaan terganggu, dengan demikian mereka bisa kehilangan pekerjaan, adalah bukti lemahnya posisi tawar nelayan pekerja. Kekhawatiran kehilangan pekerjaan seperti ini bisa dipahami, karena armada kapal yang bisa menjadi tempat kerja nelayan Dufa­-Dufa amat terbatas sementara jumlah nelayan cukup banyak. Maka dapat diduga, tingkat kesejahteraan, dengan demikian pendapat nelayan pemilik lebih besar. Pendapatan bersih perbulan majikan sangat ditentukan jumlah armada, berikut alat tangkap yang dimiliki. Dari delapan nelayan pemilik, setiap bulan, masing-masing rata-rata mampu "membukukan" pendapat bersih: Rp 2.000.000 satu orang, Rp. 5.700.000 satu orang, Rp. 6.000.000 satu orang, Rp. 10.000.000 satu orang, Rp. 11.000.000 satu orang dan Rp. 13.000.000 dua orang. Peran-peran dominan yang dimainkan perempuan, terutama dalam kegiatan nelayan, dapat pula dilihat pada perbandingan data-data temuan survei di bawah ini. Pendapatan 221 nelayan, semuanya laki-laki terdapat 23 orang dengan penghasilan perbulan rata-rata antara Rp. 200.000-Rp. 500.000; terdapat 100 nelayan dengan penghasilan perbualan rata-rata Rp. 600.000-Rp. 1.000.000; sejumlah 97 orang nelayan berpendapatan perbulan rata-rata Rp. 1.000.000 - Rp. 1.900.000. tidak ada nelayan yang berpendapat antara Rp. 2.000.000-Rp 3.900.000. Hanya satu orang dengan pendapatan rata-rata Rp. 4.000.000. Sementara perempuan yang tampak meninjol dalam dibo-dibo pasar. Data yang dikumpulkan dalam mencatat, terdapat 83 orang (perempuan) yang berstatus sebagai istri dan janda, berprofesi sebagai dibo-dibo pasar. Pendapatan perbulan yang mereka peroleh, rata-rata antara Rp. 1.500.000 hingga dengan Rp. 3.000.000. Pendapat bersih ini tidak termasuk arisan harian (diraik setiap hari) sebesar Rp. 100.000 dengan anggota arisan antara 10-30 orang. Dengan kata lain, jika hasil penarikan arisan dikategorikan sebagai pendapatan bersih dibo-dibo pasar, maka pendapatan bersih pedagang ikan di pasar bergerak antara Rp. 4.500.000 hingga dengan Rp. 6.000.000 per bulannya. Namun demikian, mesti diakui, laki-laki tampaknya dominan. Tercatat sebanyak 6 orang yang berstatus sebagai suami dan 1 orang duda, berprofesi sebagai nelayan perantara, dan hanya 1 orang perempuan yang berstatus istri berprofesi sebagai perantara. Tidak ada perempuan yang melakoni pekerjaan sebagai pelaksana. Meski perempuan cukup dominan bekerja di luar rumah, dengan demikian, perempuan, juga dominan dalam mengkonstrubusi pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga, namun pekerjaan perempuan tetap dianggap sebagai pelengkap atau perempuan yang bekerja mencari nafkah adalah sekedar membantu suami. Hal seperti ini, setidaknya, tampak pada dua hal. Pertama, memang benar bahwa pendapatan suami dan penghasilan yang diperoleh istri dikelola atau diatur oleh istri. Namun benar pula, posisi istri seperti itu tidak lebih sekedar pengelola uang atau pendapatan suami. Dengan begitu, perempuan atau istri, dalam penggunaan uang tetap harus meminta persetujuan suami atau setidaknya tidak bertentangan dengan keinginan suaminya. Kedua, walaupun dalam rumah tangga tertentu perempuan sangat dominan sebagai penyangga ekonomi rumah tangga, namun laki-laki tetap dianggap sebagai kepala keluarga yang mengambil keputusan. Pandangan bahwa perempuan sebagai pendamping suami atau laki-laki menjadi kepala rumah tangga, jelas terungkap selama pelaksanaan survei ini. Kalimat-kalimat seperti: istri membantu suami dengan berjualan, atau istri memiliki pekerjaan sampingan dengan berdagang (kios), adalah sedikit bukti yang bisa diungkap. Pandangan-pandangan seperti ini, di duga telah ikut mempengaruhi kualitas sumberdaya perempuan Dufa-Dufa. Dengan kata lain, rendahnya pendidikan - tingkat pendidikan sebagai indikator kualitas sumberdaya manusia - secara tidak sadar, sebenarnya dipengaruhi oleh pandangan-pandangan bias gender seperti di atas. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia, terutama perempuan, komunitas Dufa-Dufa tampak jelas pada data-data pendidikan - sekali lagi, jika pendidikan dianggap sebagai salah satu indikator kualitas pendidikan yang menjamin mobilitas vertikal maupun mobilitas horizontal suatu masyarakat - penduduk seperti yang dilaporkan dalam monografi kelurahan per Desember 2004. Angka putus sekolah di kalangan remaja dengan rincian 2l dari 5150 atau 0,40 % dari keseluruhan jumlah penduduk Dufa-Dufa putus sekolah SD; 31 orang atau 0,60 % putus sekolah SLTP; 23 orang atau 0,44 % putus sekolah SLTA dan 16 orang atau 0,31 % putus kuliah, harus diakui merupakan angka yang cukup tinggi. Hal tersebut bila dikaitkan dengan keberadaan sarana-prasarana pendidikan - dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi ada di Kelurahan Dofo-Dufa. Laporan monografi kelurahan itu juga mengindikasikan kualitas sumberdaya perempuan, khususnya ibu rumah tangga amat rendah. Dari 878 ibu rumah tangga, sebanyak 89 orang atau 10,13 % atau 1,72 % ibu rumah tangga dari keseluruhan penduduk Dufa-Dufa yang tidak tamat SD; sebanyak 120 orang atau 13,66 % dari keseluruhan ibu rumah tangga atau 2,33 % ibu rumah tangga dari keseluruhan jumlah penduduk: Dufa-Dufa yang tamat SD; dan masing-masing 216 orang atau 20,60 % ibu rumah tangga dari keseluruhan ibu rumah tangga atau 4,19 % ibu rumah tangga dari keseluruhan penduduk Dufa-Dufa yang berpendidikan SLIT. Sementara 104 orang atau 4,66 % dari keseluruhan ibu rumah tangga atau 2,01 % dari keseluruhan penduduk Dufa-Dufa berpendidikan SLTA. Hanya 41 orang ibu rumah tangga atau 4,66% dari keseluruhan ibu rumah tangga atau 0,79 % ibu rumah tangga dari keseluruhan penduduk Dufa-Dufa yang berpendidikan tinggi. Sementara, survei ini menemukan 322 laki-laki atau 6,25 % dan 333 perempuan atau 6,46 % dari keseluruhan jumlah penduduk Dufa-Duta berpendidikan SD: 248 orang laki-laki atau 4,81% dan 254 orang perempuan atau 4,93 % perempuan berpendidikan SLTP, sebanyak 422 orang laki-laki atau 8.19 % dan 365 orang atau 7.08 % perempuan dari total jumlah penduduk Dufa-Dufa berpendidikan SLTA. Sementara penduduk yang menyelesaikan pendidikan tinggi (D1-S3) sebanyak 208 orang (laki-laki dan perempuan) atau 4,03%. Rendahnya tingkat pendidikan ini berpengaruh langsung terhadap kesempatan warga Dufa-Dufa dalam membuka peluang kerja formal. Tingginya angkatan kerja (pencari kerja maupun yang sudah bekerja) yang mengandalkan ijazah SD sebanyak 389 orang atau 7,55 % yang tidak tamat SD sebanyak 168 atau 3,26 %; 417 orang atau 8,09 % yang berijazah SLTP, maka dapat dipastikan, kira-kira 18,90 % penduduk dikategorikan sebagai under skill labour. Dan sebagai tenaga kerja yang tidak memiliki keterampilan, mereka yang sementara bekerja atau mencari pekerjaan akan mengisi pasar kerja yang tidak membutuhkan keterampilan atau mereka bekerja pada sektor yang merupakan pekerjaan turun-temurun. Pandangan terhadap perempuan sebagai pelengkap atau sebagai pendamping suami, pada gilirannya, bukan hanya berpengaruh kepada tingkat pendidikan atau lemahnya sumberdaya manusia perempuan Dufa-Dufa. Pandangan-pandangan seperti ini juga telah membuat perempuan tidak memiliki peluang untuk mengembangkan, atau diberi kesempatan yang setara dengan laki-laki dalam pengelolaan organisasi ekonomi yang berhubungan dengan kegiatan kenelayanan. Hal ini tampak pada, anggota, juga pengurus kelompok nelayan, seluruhnya laki-laki. Padahal, seharusnya, perempuan lebih berperan dalam organisasi profesi seperti ini karena kelompok masyarakat ini, seperti disebutkan di atas, cukup dominan menyangga ekonomi rumah tangga. Kurang dominannya peran perempuan dalam pengelolaan organisasi profesi nelayan, selain dipengaruhi pandangan-pandangan yang bias gender seperti di atas, ia juga dipengaruhi oleh hubungan kerja antara nelayan pemilik, nelayan pekerja, nelayan pelaksana, nelayan dibo-dibo perantara dan nelayan dibo-dibo pasar. Dalam banyak komunitas nelayan di Indonesia, istri majikan atau istri nelayan pekerja, biasanya berprofesi sebagai pedagang perantara. Sementara dalam komunitas nelayan Dufa-Dufa, istri majikan atau nelayan hampir tidak ada yang berprofesi sebagai pedagang perantara. Hanya sedikit istri nelayan pekerja yang bekerja sebagai nelayan (pedagang) dibo-dibo pasar. Di disi, komunitas nelayan Dufa-Dufa tidak mempraktekkan adigium : "laki-laki penguasa laut dan perempuan penguasa darat”. Nelayan perantara atau penyelenggara dan dibo-dibo perantara, dilakoni oleh laki – laki yang sebagian merupakan keluarga majikan dan sebagiannya “orang luar”. Meski bukan sebagai penguasa darat dalam kegiatan kenelayanan, perempuan komunitas Dufa – Dufa juga dominan sebagai pedagang pasar. Sebagai dibo-dibo pasar, mereka tidak hanya berjualan hasil laut. Dalam aktivitasnya, perempuan – perempuan ini juga mengais rezeki di pasar dengan cara berjualan bumbu masak dan makanan hasil pertanian. Mungkin karena posisi dominannya dalam perdagangan eceran, dengan demikian juga lebih banyak mengkonstribusi pemenuhan kebutuhan konsumsi rumah tangga, bahkan untuk biaya pembangunan rumah, maka perempuan Dufa-Dufa yang bekerja sebagai dibo-dibo mampu menjadi anggota arisan yang ditarik tiap hari dengan setoran yang tergolong besar - setiap hari Rp. 100.000. Lembaga arisan, bagi mereka selain berfungsi sebagai wadah yang saling mengakrabkan di antara mereka. Tetapi arisan, selama ini, terbukti mampu membantu dibo-dibo mengambangkan modal usahanya. Dengan jumlah anggota arisan antara 10-30 orang per satu kelompok, dengan setoran maksimal 100.000 per hari, maka para pedagang dibo-dibo bisa "menabung." sebesar maksimal Rp. 3.000.000 per bulan. Pada kenyataannya, uang hasil tarikan arisan harian dipakai untuk penambahan modal dilakukan oleh mereka yang baru memulai usaha dibo-dibo. Bagi mereka yang telah memiliki modal yang cukup karena sudah cukup lama berprofesi sebagai dibo-dibo hasil tarikan" arisan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan rumah, membeli perabit rumah, biaya pendidikan anak dan untuk tabungan di bank. Praktek seperti ini, harus diakui, jika dikembangkan ke arah yang lebih profesional, maka la akan sangat berarti sebab jaminan sosial, dengan demikian mungkin bisa dikembangkan sebagai jaminan masa depan, bagi kelompok masyarakat nelayan seperti di Dufa-Dufa. Arisan sangat mungkin bisa dikembangkan sebagai jaminan (asuransi) sosial bagi kelompok masyarakat yang pendapatnya ditentukan oleh kondisi alam. Masalahnva, lembaga-lembaga non-ekonomi yang sebenarnya telah terbukti mampu mengkonstribusi ekonomi rumah tangga seperti arisan ini, tidak pernah dikembangkan secara profesional. Lembaga pemerintah, seperti kelurahan dan pengelola pasar, selama ini melihat masalah arisan sebagai kegiatan yang berkembang di luar kegiatan-kegiatan ekonomi kenelayanan dibo-dibo pasar. Padahal, jika kelompok arisan ini dikembangkan lebih profesional menjadi koperasi dengan sentuhan manejemen yang profesional, transparan dan akuntabel, maka bukan tidak mungkin, la akan bisa menjadi lembaga keuangan alternatif yang mampu menyediakan modal kerja dengan tingkat "bunga" yang rendah. Tampaknya lembaga-lembaga pemerintah mesti memikirkan untuk mengembangkan kegiatan arisan ibu-ibu dibo-dibo menjadi lembaga ekonomi yang berorientasi profit. Membentuk lembaga keuangan seperti BMT atau koperasi simpan pinjam, mungkin, bisa dipilih sebagai alternatif Lembaga keuangan mikro seperti ini, seperti diakui para dibo-dibo sebenarnya bisa dijadikan sebagai lembaga yang mampu menjamin pendapatan secara tetap kelak setelah mereka tidak lagi melakukan kegiatan perdagangan eceran karena termakan usia. Problemnya, lembaga yang diakui memiliki nilai ekonomi pada masa depan itu, dalam banyak hal, tidak dipercaya oleh pelaku ekonomi pasar. Ketidakpercayaan pelaku ekonomi mikro terhadap lembaga-lembaga seperti koperasi nelayan, koperasi pasar atau BMT, karena lembaga-lembaga itu yang didirikan oleh mereka yang berprofesi bukan sebagai nelayan dibo-dibo serta tidak adanya keterlibatan dibo-dibo dalam menejmen pengelolaan, pada kenyataannya tidak memberikan nilai tambah kepada dibo-dibo. Terutama koperasi, hasilnya hanya dinikmati oleh para pengurus. Mentransformasikan kegiatan arisan menjadi lembaga ekonomi yang berorientasi profit masih dimungkinkan dilakukan dalam komunitas nelayan Dufa-Dufa. Kemungkinan itu bisa dilakukan dengan cara membangkitkan kepercayaan para dibo-dibo. Sebenarnya, tidak hanya membuat dibo-dibo percaya akan nilai tambah lembaga-­lembaga ekonomi seperti ini. Lembaga-lembaga ekonomi kenelayan akan bisa berkembang baik, jika perempuan yang terbukti dominan dalam kegiatan-kegiatan ekonomi nelayan, diperankan sebagai penggerak utara. Artinya, dalam lembaga-­lembaga ekonomi nelayan, keterlibatan perempuan tidak sekadar sebagai pelengkap. Perempuan harus menjadi subjek - pendiri dan pengelola - yang aktif dalam pengembangan lembaga ekonomi mikro kenelayanan. Pandangan-pandangan kulturan yang memandang "minor" peran-peran publik perempuan - pekerjaan dan hasil pekerjaan perempuan dianggap sebagai subordinat atau melengkapi pekerjaan laki-laki - tampaknya cukup menghalangi institusi seperti arisan yang telah terbukti bernilai ekonomi dapat dikembangkan secara lebih professional. Karenanya, pandangan-pandangan kebudayaan seperti ini perlu dihindarkan dengan cara-cara yang elegan sehingga tidak menimbulkan reaksi negatif. Dianggap sebagai upaya untuk merongrong tatanan budaya atau mendesakkan nilai-nilai luar yang tidak sesuai dengan "budaya lokal". Di sini, pendampingan terhadap perempuan yang bertujuan untuk penguatan kapasitas perempuan. tampaknya merupakan agenda mendesak yang perlu segera dilaksanakan. Pengembangan organisasi ekonomi yang berbasis pada potensi yang telah dimiliki perempuan, mungkin bisa dipilih sebagai alternatif Dalam pengembangan organisasi ekonomi seperti yang diusulkan ini, sekali lagi, perempuan mesti dijadikan sebagai pelaku utara. Keterlibatan laki-laki atau pihak luar harus bisa dan mampu mengambil posisi sebagai "pendorong". Sebisa mungkin, keterlibatan laki-laki tidak harus mengintervensi mekanisme kerja organisasi ekonomi yang berbasis perempuan ini hanya dengan cara-cara seperti ini, maka organisasi perempuan bisa berkembang, yang, dengan demikian, peran-peran publik perempuan diakui dan disetarakan dengan peran-peran publik laki-laki. 4. PENUTUP 4.1. Kesimpulan Letak geografis Kelurahan Dufa-Dufa yang merupakan wilayah pembatas antara pusat kota dan luar kota, pada satu sisi, dan Dufa-Dufa sebagai salah satu pintu masuk perdagangan antar pulau di Maluku Utara serta Dufa-Dufa sebagai salah pusat pendidikan di Kota Ternate, pada sisi lainnya, semestinya membuat masyarakat Dufa-Dufa memiliki akses yang cukup untuk melakukan mobilitas sosial secara vertikal. Namun hal itu tidak terjadi, karena kualitas sumber daya manusia Dufa-Dufa tergolong rendah. Rendahnya kualitas sumber daya ini tampak pada rendahnya pendidikan ibu-ibu rumah tangga dan warga komunitas Dufa-Dufa pada umumnya. Meski pendidikan perempuan komunitas Dufa-Dufa dikategorikan rendah, tetapi hal itu tidak menghalangi mereka untuk berperan secara aktif dalam wilayah publik. Jika kegiatan berdagang ikan di pasar, dibo-dibo dikategorikan sebagai pekerjaan-pekerja di luar rumah, maka dapat dikatakan, perempuan Dufa-Dufa lebih dominan dibandingkan laki-laki, temasuk dalam hal pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangga. Masalah peran-peran perempuan seperti ini tidak dianggap sebagai yang utama. Kegiatan ekonomi perempuan dianggap sebagai pelengkap yang sekadar membantu pekerjaan laki-laki atau suami. Kegiatan ekonomi kenelayanan perempuan Dufa-Dufa, terutama lembaga non-ekonomi tetapi telah terbukti sangat membantu pengembangan ekonomi mereka, seperti arisan bisa dikembangkan menjadi lembaga ekonomi yang berorientasi profit. Pengembangan lembaga ekonomi seperti ini bisa dilakukan sejauh perempuan dilibatkan sebabagi subyek dalam pengembangan organisasi ekonomi seperti itu. Keikutsertaan pemerintah, laki-laki dan pihak-pihak luar dalam pengembangan organisasi ekonomi perempuan, harsulah lebih sebagai ‘pelengkap’. 4.2. Rekomendasi Pemerintah Kota Ternate dan Pemeritah Kelurahan Dufa-Dufa yang memegang otoritas dan sumber daya politik dan ekonomi, harus mengambil peran yang lebih besar dalam mengambangkan ekonomi komunitas nelayan Dufa-Dufa. Pendampingan secara sistimatis dan berkelanjutan terhadap kelompok nelayan perempuan serta pemberian bantuan langsung alat tangkap yang menjadi milik bersama (anggota kelompok) akan sangat membantu perempuan komunitas nelayan Dufa-Dufa meningkatkan taraf hidupnya. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ternate, yang sejak berdiri mengambil lokasi di Dufa-Dufa dan sejak tiga tahun terakhir menjadikan Dufa­-Dufa sebagai Desa Binaan, harus lebih proaktif untuk melakukan pembinaan yang berorientasi pada peningkatan sumber daya manusia. Rendahnya tingkat pendidikan ibu-ibu rumah tangga, mesti dianggap sebagai tanggung jawab STAIN. Dengan demikian, program-program pembinaan dalam pelaksanaan kegiatan Desa Binaan, mesti lebih diarahkan kepada peningkatan kesadaran perempuan untuk meraih pendidikan. Sebagai lembaga pendidikan tinggi yang berlokasi di Dufa-Dufa, saatnya STAIN membuka jaringan kerja dengan instansi pemerintah dan swasta, terutama Pemerintah Kota Ternate, untuk melakukan pendampingan secara profesional, sistimatis dan terprogram dalam melakasanaan kegiatan program Desa Binaan di Dufa-Dufa. Di sini, persoalan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana Desa Binaan sebagai modal dasar, mutlak diperlukan. Dalam melakukan pendampingan, STAIN harus menjadikan perempuan sebagai basis kegiatan. Hal ini perlu dilakukan karena, selain kualitas pendidikan perempuan masih rendah, perempuan Dufa-Dufa ternyata amat dominan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangga. Perubahan pandangan kebudayaan yang menganggap pekerjaan perempuan sekadar sebagai pelengkap, tampaknya mesti dicarikan strategi yang tepat sehingga tidak menimbulkan reaksi negatif dan dianggap sebagai usaha merusak tatanan budaya lokal dengan malaksanakan nilai budaya luar. DAFTAR KEPUSTAKAAN Buku: Abdullah, Irwan. (Edt), Sangkan Paran Gender. Yogyakarta, Pustaka Pelajar, Cet. Ke-II 2003. Azwar, Welhendri, Matrilokal dan Status Perempuan dalam Tradisi Bajapuik. Studi Kasus tentang Perempuan dalam Tradisi Bajapuik-. Kata Pengantar, Prof. Dr. Sjafri Sairin. Diterbitkan Atas Kerjasama Yayasan Adikarya IKAPI dan The Ford Foundation Yogyakarta, Galang Press. 1991. Fakih, Mansour, Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta, Pustaka Pelajar. Cet.1V, 1999. Fontana, Andrea, Ethnographic Trends in the Postmodern Era. Dalam Posmodernism and Social Inquiry. David R. Dickens/Andrea Fontana, editor. New York, London The Guilford Press. 1994. Goode, J. williain, The Family (terjemahan). Jakarta, Penerbit Bumi Aksara, 1992. Ihromi, T.O, Penyunting. Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Jakarta, Yayasan Obor Indonesia. 1999. Marge, Koblinsky dkk. Editor. The Health of Woman. A Global Perspective (terjernahan: dr. Adi Utarini, MSc), Yogyakarta, Gajah Mada University Press, 1997 Moleong, Lexy. Dr, MA. Metodologi Penelitian Kualtatif: Bandung, PT Remaja Rosdakarya. 2000. Moore, Henrieta L. Feminism and Anthropology (terjemahan: Tim Proyek Studi Jender dan Pembangunan Fisip UI). Diterbitkan atas kerjasama Proyek Studi Jender dan Pembangunan Fisip UI dengan Penerbit OBOR. Jakarta, Penerbit OBOR, 1998. Mosse, Julia Cleves, Gender dan Pembangunccn (terjemahan;Hartian Silawati). Yogyakarta. Riflca Annisa Women's Crisis Centre dengan Pustaka Pelajar). Kata Pengantar DR. Mansour Fakih, 1996. Uneputty, TJA. Drs. Dkk. Sistem Kesatuan Hidup Setempat Daerah Maluku. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya. 1980/1981. Artikel : Chandrakirana, Kamala. Tantangan Perubahan dalam Bermasyarakat dan Bernegara (Sisi Perempuan). Kompas, 25/06/2000:42). Engle, Patrice L.Peranan I,aki-Laki dalam Keluarga: Upaya untuk Meraih Kesetaraan Gender dan untuk Mendukung Anak-Anak. Dalam Jurnal Perempuan, No. 05, November-Januari 1998. Jakarta, Penerbit Yayasan Jurnal Perempuan. Habsjah, Atashendartini, MA. Jender dan Pola Kekerabatan. Dalam Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Ihromi, TO, Penyunting. Jakarta, Yayasan Obor Indonesia. 1999. Hal.210-223 Hatmadji, Sri Harijati. Peranan Perempuan dalarn Pernbangunan: Suatu Paparan Singkat. Dalam Pembangunan Nasional: Teori, Kebijakan, dan Pelaksanaan. Moh. Arsjad Anwar dkk, (peny.). Persembahan untuk 70 Tahun Widjojo Nitisastro, Jakarta, Fakultas Ekonomi Univ. Indonesia, 1997: 809-833 Paltiel, Freda L. Kesehatan Jiwa Wanita: Suatu Perspektif Global. Dalam The Health of Woman. A Global Perspective (terjemahan: dr. Adi Utarini, MSc), Marge Koblinsky dkk. Editor. Yogyakarta, Gajah Mada University Press, 1997 Robinson, Katryn. Wanita: Dikotomi Versus Keragaman. Dalam Indonesian Beyond Soeharto. Negara, Ekonomi, Masyarakat, Transisi. Donald K. Emmerson, editor. Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama. Bab VIII. Hal. 419- 462. Sobary, Mohamad. Kesalehan, Etos Kerja, dan Tingkah Laku Ekonomi: Studi Kasus Sektor Infomnal Di Ciater. Dalam Membangun Martabat Manusia. Peranan Ilmu-Ilmu Sosial dalam Pembangunan. Sjafri Sairin, dkk (Penyunting), hal. 584-604. Yogyakarta, Gajah Mada University Press bekerjasama dengan HIPIIS Cabang Yogyakarta. 1996. Suyanto, Bagong. Upaya Menyejahterakan Nelayan di Jawa Timur. Meningkatkan Produktivitas atau Diversifikasi Usaha? Tanggapan terhadap Tulisan Kusnadi. Dalam Polemik Kemiskinan Nelayan. Kusnadi (Peny). Bantul, Pondok Edukasi-Pokja Pembaruan. 2004, 13-20. Profil Kelurahan Dufa-Dufa Propinsi Maluku Utara. Pemerintah Kota Ternate, Kec. Kota Ternate Utara, Tahun 2003.

No comments:

Post a Comment